Resume materi PKKMB day 2


 ●Pemateri : Prof . Dr Haryono Umar, SE., Ak.,M.Sc., Ca 

Materi : Generasi muda berintegerasi anti korupsi 

Ringkasan:

Generasi saat ini, khususnya mahasiswa baru, perlu memahami dan belajar bagaimana cara mencegah terjadinya korupsi dalam berbagai lini kehidupan. Pemahaman ini penting karena peran generasi muda sangat menentukan arah masa depan bangsa.Pada kesempatan hari ini, dalam materi kedua, kita akan membahas topik “Generasi Muda Berintegritas Antikorupsi”. Materi ini insya Allah akan disampaikan oleh Bapak Dr. Nurul Gufron, S.H., M.H., yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

●Pemateri : Achmad syaifuddin, S.Si.,M.Phil.,Ph.D

Materi : pengembangan karakter mahasiswa : anti plagiarisme . 

Ringkasan: Plagiarisme adalah penggunaan informasi atau karya orang lain tanpa izin, tanpa mencantumkan sumber, atau tanpa memberikan pengakuan yang layak. Dalam KBBI, plagiarisme berarti mengambil karya orang lain dan mengakuinya sebagai milik sendiri. Istilah ini sudah dikenal sejak 1900 tahun silam melalui kata plagiarius yang berarti penculik atau perampas. Hal ini menunjukkan bahwa plagiarisme adalah tindakan serius karena sama saja dengan mencuri hak cipta dan hasil pemikiran orang lain.


Meski sudah lama dikenal, praktik plagiarisme masih sering terjadi di kalangan mahasiswa. Ada berbagai alasan yang melatarbelakangi hal ini, seperti ketidaktahuan bahwa tindakannya termasuk plagiarisme, merasa tidak akan ketahuan padahal teknologi seperti Turnitin mampu mendeteksi dengan cepat, rasa takut gagal sehingga memilih jalan pintas, hingga ketidaksengajaan karena lupa mencantumkan sumber. Ada pula yang melakukannya karena ingin terlihat hebat, unggul, atau sekadar tidak peduli dengan proses akademik dan hanya mengejar kelulusan.


Untuk itu, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) berkomitmen mencegah plagiarisme dengan berlangganan Turnitin agar setiap tugas dan karya ilmiah mahasiswa dapat dicek keasliannya. Selain itu, edukasi tentang apa itu plagiarisme dan bagaimana cara menghindarinya diberikan sejak awal perkuliahan. Mahasiswa juga didorong untuk selalu menghargai karya orang lain, menjaga integritas, serta mengutamakan orisinalitas dalam setiap karya akademik.

●Pemateri : KH . Ma'ruf Khozin-PWNU Jatim

Materi : mencetak mahasiswa sebagai generasi aswaja An-Nadliyah



Ringkasan : Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) secara inheren diposisikan sebagai penerus dan pewaris tradisi keilmuan serta keagamaan Aswaja An-Nahdliyah, mengingat universitas ini didirikan dan berafiliasi langsung dengan Nahdlatul Ulama (NU)—organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menjadi rujukan utama paham Aswaja An-Nahdliyah. Berikut penjelasan mendalam mengenai peran dan karakteristik mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah:


1.⁠ ⁠Landasan Ideologis: Apa Itu Aswaja An-Nahdliyah?


 Aswaja (Ahlusunnah wal Jama'ah): Merupakan paham keislaman yang mengikuti jejak generasi terbaik (salafus shalih) dalam beragama, berpegang pada Al-Qur'an, Hadis, Ijma Ulama, dan Qiyas.

 An-Nahdliyah: Merujuk pada corak ke-NU-an yang menekankan keseimbangan (tawazun), moderasi (tawassuth), toleransi (tasamuh), dan kemaslahatan (ishlah).

 Ciri Khas:

 Berada di tengah (bukan ekstrem kanan maupun kiri).

 Menghormati keberagaman mazhab (terutama Syafi'iyyah dalam fiqih, Asy'ariyyah/Maturidiyyah dalam akidah, dan Al-Ghazali dalam tasawuf).

 Mengutamakan dampak sosial dari pemahaman agama (fiqih sosial).

 2. Peran Mahasiswa UNUSA sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah


a. Penjaga Tradisi Keilmuan


 Mahasiswa UNUSA dididik untuk memahami dan mengamalkan khasanah keilmuan klasik NU (kitab kuning) dengan pendekatan kontekstual.

 Contoh: Studi kitab seperti Ta'limul Muta'allim, Fathul Qorib, atau Uqudulujain yang menjadi rujukan etika dan ibadah dalam tradisi NU.

 b. Agen Moderasi Beragama


 Sebagai kader NU, mahasiswa UNUSA diarahkan untuk menjadi pelopor toleransi dan perdamaian:

 Menolak radikalisme dan ekstremisme.

 Membangun dialog antaragama dan budaya.

 Menyebarluaskan Islam yang rahmatan lil 'alamin (kasih sayang untuk semesta).

 c. Pejuang Kemaslahatan Sosial


 Aswaja An-Nahdliyah mengutamakan amar ma'ruf nahi munkar melalui pendekatan yang bijak:

 Terlibat dalam pemberdayaan masyarakat (ekonomi, pendidikan, kesehatan).

 Mengadvokasi isu-isu kemanusiaan (lingkungan, kesetaraan gender, anti-korupsi).

 Contoh: Kegiatan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Islam di UNUSA yang fokus pada sosial kemasyarakatan.

 d. Inovator dalam Tradisi


 Mahasiswa UNUSA didorong untuk mengadaptasi nilai-nilai Aswaja dalam konteks modern:

 Mengembangkan teknologi dan startup berbasis nilai Islam.

 Menyelesaikan masalah kontemporer (seperti hoaks, radikalisme online) dengan perspektif Aswaja.

 Mempopulerkan budaya lokal (seperti gamelan, wayang) sebagai bagian dari dakwah kebudayaan NU.

 3. Implementasi di Kampus UNUSA


 Kurikulum: Mata kuliah wajib seperti Pendidikan Agama Islam, Ke-NU-an, dan Aswaja An-Nahdliyah yang mengajarkan landasan teologis dan praktis.

 Kegiatan Kemahasiswaan:

 Majelis Taklim: Kajian kitab klasik dan kontemporer.

 Lembaga Semi Otonom (LSO): Seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) atau IPNU/IPPNU yang mengkader aktivis Aswaja.

 Festival Budaya NU: Mengangkat tradisi seperti shalawatan, hadrah, dan dzikir.

 Kolaborasi dengan NU: Mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan PBNU atau PWNU Jawa Timur, seperti Muktamar, Harlah NU, atau program sosial.

 4. Tantangan bagi Generasi Aswaja An-Nahdliyah


 Globalisasi dan Radikalisme: Menjaga identitas Aswaja di tengah arus pemikiran transnasional yang ekstrem.

 Disrupsi Digital: Menyebarkan narasi Aswaja yang moderat di ruang maya yang rentan hoaks.

 Relevansi Pemuda: Membuktikan bahwa Aswaja An-Nahdliyah adalah solusi bagi masalah modern, bukan sekadar warisan masa lalu.

 5. Kesimpulan: Mahasiswa UNUSA sebagai "Generasi Harapan"


Mahasiswa UNUSA bukan sekadar penuntut ilmu, melainkan kader peradaban yang dituntut untuk:


 Menginternalisasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam kehidupan pribadi.

 Mengimplementasikan prinsip moderat, toleran, dan maslahah dalam bermasyarakat.

 Mengembangkan tradisi intelektual NU untuk menjawab tantangan zaman.

 Dengan demikian, mereka menjadi jembatan antara warisan ulama Nusantara dan masa depan Indonesia yang berkeadilan, beradab, dan berkepribadian Islam. Seperti dikatakan KH. Hasyim Asy'ari: "NU itu tugasnya nguri-uri (melestarikan) yang shalih dan ngembangke (mengembangkan) yang aswaja." Mahasiswa UNusa adalah garda terdepan dalam misi ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banjir Peminat, Prodi S1 Keperawatan Unusa Tambah Kelas Baru

Day 1 PKKMB UNUSA 25

Resume PKKMB Day 3 no 1